Sistem Pajak Mobil Berbasis Emisi Akan Diterapkan! Apa Dampaknya?

Setelah beberapa lama, kini skema perubahan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) yang mengacu pada emisi kendaraan mengalami titik terang. Hal ini dikonfirmasi oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Kira-kira apa dampaknya bagi dunia otomotif Indonesia?

Melalui skema PPnBM baru ini, bila sebelumnya pajak mobil dihitung dari kapasitas mesin. Kini pajak mobil ditentukan dari emisi atau gas buang, hal ini membuka kesempatan bagi mobil elektrik mendapatkan pajak 0% yang diharapkan dapat memacu ekspor kendaraan tersebut.

“Insentif baru yang dikeluarkan pemerintah ini disederhanakan menjadi berbasis emisi. Skema harmonisasi ini diharapkan bisa mengubah kendaraan produksi dalam negeri menjadi rendah emisi, meningkatkan investasi, dan memperluas pasar ekspor,” Kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Hal senada juga diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani “Jadi insentif itu prinsipnya sederhana kalau emisi semakin tinggi maka PPnBM makin tinggi dan sebaliknya. Nah kalau kemarin berbasis sedan sekarang sudah kita angkat karena economic of skill industri otomotif kita sudah kuat. Dengan kebijakan baru diharapkan kita mampu mengekspor dan mengejar Thailand,”

Selain itu pemerintah juga akan menghapus pajak berdasarkan tipe kendaraan seperti sedan yang secara tradisional memiliki pajak yang lebih tinggi serta penggerak mobil dimana sebelumnya mobil penggerak empat roda dikenakan pajak yang cukup tinggi.

Walau skema PPnBM baru memungkinkan mobil elektrik mendapatkan pajak 0%, mobil jenis lain seperti LCGC akan mendapatkan pajak hingga 3%. Sekedar pengingat sebelumnya mobil LCGC mendapatkan keringanan pajak 0% dengan alasan menumbuhkan industri otomotif.

Selain mobil elektrik pemerintah juga memiliki program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV), yang mendukung produksi kendaraan kendaraan hybrid, plug-in hybrid, fuel cell, dan flexi engine (Dapat menggunakan campuran BBM alternatif) rencananya kendaraan ini akan dikenakan tarif PPnBM mulai dari nol persen hingga 12 persen.

Para penggemar mobil sportscar pun harus kecewa karena pajak mobil mewah 125% yang tahun lalu diberlakukan tetap berlaku untuk mobil dengan kapasitas mesin 5.000cc. Sebelumnya para pemain mobil mewah telah mengatasi masalah tersebut dengan mendatangkan mobil mewah dengan kapasitas mesin kecil. Namun terbantu dengan teknologi seperti turbo untuk memastikan tenaga yang dihasilkan setara dengan mobil besar.

Pihak Gaikindo melalui Ketuanya Jonkie D Sugiarto mendukung langkah pemerintah “Secara garis besar kalau memang nanti disesuaikan PPnBM nya, kalau gitu berarti harga mobil akan lebih murah, terjangkau dan orang jadi sanggup. dan harapan kita ada kenaikan penjualan,”

Salah satu target skema baru PPnBM adalah peningkatan ekspor industri, salah satunya adalah kemungkinan ekspor mobil elektrik ke Australia yang difasilitasi oleh Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA). Perjanjian ini memungkinkan Indonesia untuk mengekspor kendaraan bebas pajak.

“Dengan demikian, potensi pasar otomotif di Australia sebesar 1,1 juta sudah terbuka bagi produsen Indonesia,” ucap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Sebagai catatan saat ini presentasi ekspor industri otomotif Indonesia baru mencapai 26% dibandingkan Thailand yang mencapai 53%.

Namun realisasi skema baru PPnBM ini tidak akan langsung diaplikasikan, dengan target pemerintah yaitu 2021. Ini dikarenakan permintaan industri bermotor Indonesia yang membutuhkan waktu minimal 2 tahun untuk menyesuaikan dengan aturan baru ini.

Bagaimana para pembaca Autodigest, apakah skema pajak berbasis emisi ini akan membantu perkembangan industri otomotif di Indonesia?

Baca Juga:

Nissan Mau Bawa Mobil Elektrik Leaf ke Indonesia?

Pajak Mobil Listrik Nol, Tanda Era Mobil Listrik?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.