Adventouring Smile Borneo 2018, Siapa Khilaf?

Perhelatan Adventouring Smile Borneo 2018, tur membelah Kalimantan sejauh 5.000 km  yang diberangkatkan sepekan mendatang, hampir pasti membuat seluruh jantung peserta berdebar keras. Apa pasal?

Pae Bowo, inisiator tur yang diselenggarakan oleh Bimmer Benz Indonesia, menerapkan aturan yang telah menjadi tradisi dalam setiap tur. “Semua peserta dilarang keras untuk mencuci kendaraan sejak start sampai finish,” katanya.

Yang boleh dibersihkan adalah perangkat-perangkat yang terkait keamanan dan sponsorship. Misalnya kaca, lampu dan stiker sponsor. “Bila terbukti secara sah melanggar tradisi, wajib membayar denda Rp 1 juta yang dananya digunakan untuk mentraktir makan semua peserta sampai habis. Denda harus dibayarkan saat tur masih berlangsung,” ujarnya.

Siapa yang “kilaf” dan menjadi tauke dengan menyetor Rp 1 juta? Ini yang ditunggu-tunggu oleh seluruh peserta dengan jantung berdebar-debar.

Kebiasaan ini diterapkan pertama kali saat adventouring 7.000 km ke KM 0 Sabang, dilanjutkan Trans Sulawesi, Touring Seribu Quran. “Sudah beberapa teman menikmati ditraktir makan karena kelalaian ini,” ujar Pae Bowo sambil tergelak.

Tradisi ini juga diterapkan saat tur bersama teman-teman Bimmer Benz Indonesia hampir dua tahun terakhir. Beberapa orang mungkin belum mafhum, mengapa tradisi pantang mencuci atau bayar makan Rp 1 juta ini diterapkan. Jawaban sederhana: masa iya mobil touring bersih dan kinclong?

Tapi esensi dari dilarang mencuci adalah: Ada cerita dibalik lumpur debu bekas air hujan, lumpur yang hampir mengering di seluruh bodi mobil peserta. Perjalanan panjang telah menguji pribadi seseorang tentang arti persahabatan dan kesetiakawanan, dengan suka dan duka dilalui bersama-sama.

Selalu ada cerita di setiap touring, kawan.

Baca juga:

Adventouring Smile Borneo, Penjelajah dari Negeri Gajah
Adventouring Smile Borneo, Pektay Jawara dari Banten