Test Ride Royal Enfield Continental GT, Serasa Jadi Artis!

0
484

Menyalakan kunci kontak, kami pun segera mengajak Continental GT untuk mengelilingi Jakarta. Suara yang dihasilkan terdengar cukup halus, namun kurang berkesan untuk sebuah moge.

Indonesian Motor Show 2018Indonesia International Motor Show

Bisa dibilang jika suara mesinnya hampir sama dengan motor berkapasitas 250cc yang kerap seliweran di jalan raya. Posisi duduk yang diberikan memang membuat tubuh menjadi bungkuk, namun itulah ciri dari cafe racer motor balap era zaman dahulu.

Mengelilingi kota Jakarta di sore hari memang cukup melelahkan jika menggunakan Continental GT. Selain posisi tubuh yang bungkuk, koplingnya pun terasa berat sehingga membuat kami mudah merasa pegal saat melibas kemacetan.

Ketika melihat jalanan lurus dan lengang, langsung saja tarik gas. Whuuuuusssss! Satu kata yang membuat kami merasa senang ketika memelintir gasnya, torsi yang keluar dari mesin 1 silindernya sangat galak. Tenaganya sangat besar dan seakan terus melimpah hingga kecepatan 100 km/jam.

Continental GT bisa dibilang memiliki bobot yang berat, namun ia cukup mudah dijinakkan. Beradaptasi dengannya pun tak membutuhkan waktu lama, jika Anda terbiasa mengendarai motor dengan cc 200-250 tentu Anda akan merasa jika Continental GT punya karakter yang sama dengan motor tersebut.

Menikmati Continental GT memang memiliki sensasi tersendiri. Beberapa pasang mata sempat melirik kearah kami saat sedang melintas dijalanan atau saat berhenti di lampu lalu lintas. Sesekali ada juga lho yang menunjuk kearah kami. Itu membuat kami senang.

Satu yang menjadi kekurangannya saat diajak berkendara. Getaran mesinnya sangat terasa. Bahkan ketika kami ingin melihat spion, saking besarnya getaran mesin membuat spion kami tidak terlihat dengan jelas. Namun Continental GT tetaplah sebuah moge yang cukup asyik dikendarai.