Jaguar D-type: Buah Karya Ahli Aerodinamika Pesawat Terbang

Jakarta Custom Culture 2018 Jakarta Custom Culture

Melanjutkan keberhasilan di arena motorsport, Jaguar menciptakan D-type sebagai kelanjutan dari XK120C atau C-type. Setelah dikembangkan selama delapan bulan, D-type langsung diterjunkan pada lomba ketahanan 24 jam Le Mans 1954. D-type meraih keberhasilan dengan menjuarai lomba selama tiga tahun berturut-turut dan menjadi Jaguar paling sukses sepanjang masa.

Kisah D-type tak lepas dari penampilan tiga pembalap perseorangan yang mengikuti Le Mans dengan mengendarai XK120. Aksi ketiga pembalap tanggung itu rupanya mengusik Jaguar hingga termotivasi membangun mobil balap sendiri. Hasilnya adalah XK120C yang langsung menjuarai 24 Hour of Le Mans 1951. Kemenangan kembali diraih pada lomba tahun 1953 melalui versi terakhir XK120C yang dilengkapi rem piringan—pertama diterapkan pada balap mobil GT.

Kemenangan demi kemenangan yang diraih itu berkat pemikiran Sir William Lyons, pendiri Jaguar. Lyons berasumsi bahwa kemenangan muskil diraih bila mengandalkan mobil seadanya. Jaguar harus punya jagoan yang didukung tim balap yang jempolan, sebab yang dihadapi adalah pemain kuat seperti Ferrari, Alfa Romeo, Aston Martin dan Maserati. Ahli aerodinamika aviasi Malcom Sayer direkrut untuk menghasilkan D-type yang bersahaja di sirkuit.

Desain yang dibutuhkan untuk D-type adalah bodi lebih rendah dan lebih pendek dibanding C-type. Desain seperti ini dapat membantu mobil meraih kecepatan puncak dan meningkatkan kemampuan menikung. Perhitungan itu dikalkulasi berdasarkan prinsip matematika yang dihitung oleh Malcom Sayer. Saat prototipe XC401 yang belum dicat diuji, kecepatan tertinggi menembus 178 mph atau lebih cepat 30 mph dibanding C-type.

Jantung dari D-type adalah inovasi struktur sasis yang menggunakan sistem stressed-skin engineering, yang digabungkan dengan kerangka dan panel bodi dengan cara “dipaku”. Penyatuan ini menghasilkan struktur tunggal yang rigid. D-type kemudian menjadi salah satu mobil pertama yang menggunakan struktur sasis seperti ini, yang kelak dikenal sebagai konstruksi tunggal (monokok). Pada C-type, panel bodi depan dan belakang digabungkan dengan cara unstressed dan mudah untuk dibuka ketika akan diperbaiki.

D-type buatan 1954 menggunakan magnesium alloy untuk bodi, kerangka dan suspensi. Material ini menyebabkan bobot mobil jauh menurun, meski biaya produksi menjadi sangat tinggi dan biaya perbaikan juga menjadi lebih mahal. Pada 1955 material ini digantikan oleh aluminium dan beberapa komponen yang dibuat dari metal.

Mesin menggunakan basis dari XK yang dimodifikasi untuk menghasilkan kecepatan puncak yang lebih tinggi, menggunakan sistem pelumasan dry-sump dan lebih bertenaga dibandingkan mesin generasi sebelumnya. Kombinasi blok mesin yang telah dimodifikasi, katup-katup yang lebih lebar dan karburator triple Weber membantu mesin mencapai tenaga 245 hp.

Tenaga yang besar itu diimbangi dengan sistem pengereman yang juga maksimal. Jaguar bekerjasama dengan Dunlop untuk mengembangkan rem piringan secara khusus untuk D-type.

Desainnya mencomot prinsip rem piringan pesawat terbang yang diaplikasi untuk mobil. Hasilnya adalah kemenangan hat-trick yang diraih D-type sebagai juara Le Mans 1955, 1956 dan 1957.