Honda Civic CVCC Coupe 1979, Kenangan Sirkuit Ancol

Bagi remaja tahun 1980-an, sirkuit Ancol tak hanya dikenang sebagai tempat menonton film di area parkir mobil (car theater) yang seru di akhir minggu. Para pembalap yang berpacu di sirkuit Ancol di akhir pekan juga meninggalkan kesan yang tak terlupakan. Anthon Novianto, pemilik galeri Roemah 7A di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, mengaku sulit melupakan Honda Civic Coupe yang dijadikan genjotan oleh pembalap Aswin Bahar. “Jaman itu rasanya keren banget,” katanya.

Sirkuit Ancol telah ditutup dan sudah lebih dari 30 tahun dipindahkan ke Sentul, Bogor, Jawa Barat, tapi Civic Coupe untuk pasar Jepang (JDM) seperti yang dikemudikan Aswin itu belum juga pergi dari benaknya. Hingga suatu hari, ia dipertemukan dengan mobil yang selalu membuatnya susah tidur itu. Bukan eks Aswin atau sejenisnya, tapi lebih mentereng karena diproduksi untuk pasar di Amerika Serikat (USDM).

Di setiap kesempatan, Anthon selalu menyetir sendiri mobil kenangan Ancol itu. Sesekali pergi mengelilingi Jakarta atau sekedar kumpul-kumpul bersama teman-teman yang terbagung dalam kelompok penggemar mobil retro Jepang. “Tidak pernah ngebut banget, paling cuma sampai 130 km/jam,” katanya.

Civic Coupe USDM terlihat lebih beringas dibanding versi JDM. Mesin menggunakan kapasitas 1.200 cc yang sudah dilengkapi dengan CVCC, lebih kecil memang bila dibandingkan dengan Civic eks Aswin yang menggunakan mesin Mugen berkapasitas 1.600 cc. Tapi tenaga mesin versi USDM tak kalah sangar, setidaknya bila dibandingkan dengan Toyota DX atau Mitsubishi Lancer bermesin 1.400 cc, atau Civic Deluxe versi lokal bermesin 1.500 cc.

Dari penampilan fisiknya, terdapat perbedaan antara versi USDM dan JDM. Versi Amerika menggunakan bumper depan dan belakang yang lebih menonjol karena dilengkapi dengan sokbreker penahan benturan, sebuah fitur standar untuk keamanan mobil yang beredar di Amerika pada waktu itu. Sepasang lampu mata kucing terdapat pada kedua bodi samping, yang juga menjadi fitur keamanan dan banyak ditemui pada mobil-mobil yang beredar untuk pasar Amerika.

Saat dikemudikan, menurut Anthon, nyaris tak ada bedanya dengan Civic Deluxe yang diproduksi untuk pasar Indonesia. Pengendalian dan stabilitasnya relatif sama. “Oh ya, ada yang beda dibanding Civic Deluxe. Saat ambil karcis parkir atau ambil kartu tol, versi USDM merepotkan, karena setir kiri. Jadi enaknya kalau berdua,” katanya sambil menahan senyum.

Sama seperti mobil-mobil yang umum beredar antara tahun1970-1980an, setir juga terasa berat ketika parkir, karena belum dilengkapi dengan power steering. Tapi kalau sudah bergerak dan melaju di jalan raya, putaran setir terasa normal dan ringan. Keistimewaan lain dari mobil ini, menurut pengamatan Anthon, adalah kondisinya yang original. Jok misalnya, masih dibalut kulit dari dealer Honda di Amerika. Cat juga masih bawaan mobil.

Civic ini juga memiliki dokumen dan legalitas yang lengkap dan asli. Bahkan ada setumpuk dokumen pelengkap dari kedutaan besar Amerika Serikat. Di tangan Anthon, mobil ini belum pernah ganti suku cadang, apalagi dimodifikasi. Semuanya masih apa adanya. “Selama digunakan, hanya sekali saja masuk bengkel untuk isi freon AC,” ujarnya.

Meski terlihat sempurna, namun bagi yang jeli akan menemukan keganjilan. Versi USDM menggunakan spion khas yang ditanam pada pintu, tapi Civic ini menggunakan spion tanduk yang ditanam di kedua fender depan. Spion seperti ini seharusnya ada pada versi JDM.

Menurut Anthon, spion JDM yang dipasang pemilik lamanya itu, memang ada rencana untuk ditanggalkan dan diganti dengan spion USDM. Namun rencana itu masih sebatas angan-angan. Anthon belum bisa memindahkan spion ke pintu karena spion pintu USDM itu sudah dicari kemana-mana tapi belum ditemukan. Siapa bisa bantu?