Datsun Violet (1973), Buruan Kolektor Tanah Air

0
829

Nama Datsun pada awal tahun 1970an memang cukup digemari di seluruh belahan dunia. Salah satu mobil yang menjadi primadona kala itu adalah Datsun Violet yang lahir pada tahun 1973. Ingin tahu seperti apa kisahnya? Mari disimak bersama.

Datsun pertama kali memperkenalkan Violet pada tahun 1973. Mobil tersebut menjadi varian dengan kelas berbeda dari Datsun Sunny 1200 GL yang lahir pada tahun 1971 dengan model 2 pintu. Kelahiran Violet sendiri berada diantara dua generasi yang berbeda, Sunny (1971) dan Bluebird U 1600 GL (1975).

Violet diciptakan sebagai mobil kompak dengan mesin 1.595 cc, 4 Silinder, SOHC yang dapat mengeluarkan tenaga hingga 115 daya kuda pada 6.200 rpm dan sanggup mengeluarkan torsi maksimal hingga 143 Nm pada 4.400 rpm. Cukup besar tenaganya kala itu, sehingga menjadi mobil yang head to head langsung dengan Corolla dan Celica.

Modelnya pun cukup sporty kala itu, ia lahir dengan model sedan fastback yang sangat menegaskan aura sporty. Yang menarik adalah mobil ini lahir dengan suspensi independen di sektor belakang, tetapi di beberapa daerah mobil ini lahir dengan suspensi model daun di sektor tersebut.

Mobil tersebut di ekspor untuk beberapa negara seperti Mexico, Amerika, Afrika Selatan, dan Selandia Baru. Di negara-negara tersebut, mobil ini memiliki kode yang beda-beda. Di negeri asalnya sendiri, mobil tersebut bernama Violet, sedangkan untuk pasar diluar Jepang bernama Datsun 140/160J.

Di Amerika mobil ini bernama Datsun 710 yang lahir dengan 3 varian. Mulai dari 2 pintu, 4 pintu, dan model station wagon sebagai salah satu varian yang disukai oleh pasar Amerika. Di Mexico mobil ini dirakit di pabrik Nissan yang terletak di Civac dengan nama Datsun Sedan dan Datsun Guayin (station wagon). Di pasar Mexico, kedua mobil tersebut lahir dengan transmisi 4 percepatan.

Sementara untuk pasar Selandia Baru, varian dua pintu tersebut dianggap sebagai mobil perhiasan. Karena pemerintah kala itu memberlakukan pajak yang tinggi, hingga 55% yang ditambah dengan pajak penjualan sehingga menjadi lebih mahal 60% dibanding harga jual pabrik.

Di Indonesia sendiri, mobil tersebut saat ini cukup sedikit populasinya. Bahkan banyak dari penggemar mobil klasik memburu salah satu harta karun asal Jepang tersebut.