Bali Classic Motor Show 2016, Nostalgia Bus Persatuan Rute Denpasar – Klungkung

0
1083

Sebuah bus Chevrolet 1948 berbodi kayu yang dikaroseri tahun 1961 itu tengah di parkir di sebuah pelataran. Bentuknya kotak, lampunya melotot, bumper dan grilnya besar, terbuat dari besi yang dicat seadanya. Di atas kaca depan terpampang rute Denpasar-Klungkung. Di bodi samping tertulis Persatuan, nama perusahaan yang mengoperasikan bus di Bali pada tahun 1950-1960an. Supirnya duduk sambil melihat ke belakang, seakan menghitung jumlah penumpang. Di luar bus, seorang pria berkali-kali melambaikan tangan, mengajak orang-orang agar segera menaiki bus.

Sensasi menumpang bus yang menjadi ikon transportasi Bali di masa lalu, menjadi salah satu kegiatan Bali Classic Motor Show 2016, yang berlangsung di pelataran parkir Lotte Mart Denpasar hingga Minggu, 21 Agustus ini. Bertindak sebagai kernet bus adalah dr Mahayasa, Ketua Penyelenggara yang tak lain Ketua Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) Bali. Salah satu penumpangnya adalah Cecil B Silanu, Ketua PPMKI DKI Jakarta yang datang ke Bali untuk menyaksikan pameran.

“Kami ingin mengembalikan suasana transportasi Bali di masa lalu, dengan mengoperasikan bus ini berkeliling di sekitar lokasi pameran. Bagi orang tua, mereka bisa bernostalgia. Bagi orang muda, mereka bisa merasakan bagaimana orang tua mereka bertransportasi di masa lalu,” kata dr Mahayasa.

Menurut Cecil B Silanu, kehidupan transportasi masa lalu dapat digambarkan secara utuh saat menumpang bus ini. Ada suara gaduh penumpang, suara mesin dan derit kayu, besi dan kaca dari bodi dan jendela saat bus melaju. Juga pemandangan bentuk kursi dan dinding bagian dalam bus yang jauh dari kesan halus dan presisi, yang tak mungkin bisa dijumpai pada bus yang kita kenal sekarang. “Menumpang bus ini, membawa kita menuju masa lalu,” katanya.

Selama pameran berlangsung, bus beroperasi membawa penumpang yang ingin berwisata menumpang bus, dengan rute Jalan By Pass Denpasar, atau berkeliling di sekitar area pameran. Sekali angkut dapat memuat 30 penumpang. Kehadiran bus ini tentu saja disambut masyarakat yang antusias dengan memenuhi antrian. Selain penduduk dan turis lokal, warga asing juga ikut menjadi penumpang. “Memorable experience,” ujar Patrick, turis asal Australia.

Bus bermerek Chevrolet itu menggunakan mesin 6 silinder 4.000 cc. Berbobot 1,5 ton, bus ini dalam kondisi orisinil tanpa ada yang diubah sejak terakhir digunakan tahun 1974. Cat pada kap mesin dibiarkan belang, beberapa bagian yang berkarat juga tetap dipertahankan. Seluruh tulisan seperti rute dan nama merek bus juga masih tulisan asli buatan seniman tulis yang menjadi bawaan bus.

Di masa lalu, masyarakat Bali sangat familiar dan tidak asing dengan keberadaan bus ini. Bersama bus lain seperti Dharma, Suci dan Yasa, bus Persatuan menjadi bus kenangan. Bus-bus itu pernah menjadi bagian penting bagi Bali, menjadi alat transportasi yang diandalkan untuk mengantar warga pergi bekerja dan anak-anak ke sekolah. “Peran bus ini tidak bisa disepelekan, karena menjadi bagian dari perkembangan Bali. Itu sebabnya, sudah sepantasnya bus ini dirawat dan dijaga agar tetap lestari,” kata Jos Dharmawan, Pembina PPMKI, yang merupakan pemilik bus ini.

Ingin menikmati suasana transportasi Bali di masa lalu? Yuk menumpang bus Persatuan.