Adventouring Trans Sulawesi, Dihinggapi Gangguan Jelang Keberangkatan

Jakarta Custom Culture 2018 Jakarta Custom Culture

Tiba di Makassar, rombongan Mercedes-Benz yang dikomandani Pae Bowo akan membuka catatan baru sebagai petualang di tanah Sulawesi. Ketika hendak melakukan persiapan untuk memulai perjalanan, para rombongan dihadapkan dengan sedikit masalah mulai dari teknis dan non teknis, hingga pemilihan rute.

“Iya, rombongan kami baru tiba di Makassar pada Sabtu (5/8) lalu,” buka Pae Bowo kepada tim AutoDigest. Bukannya fokus untuk mempersiapkan perjalanan, sembilan peserta dari berbagai daerah harus dihadapkan dengan beberapa masalah teknis dan non teknis.

“Sebelum berangkat kami sedang fokus untuk memperbaiki mobil peserta. Ada yang transmisinya down, ganti radiator, hingga ganti suspensi. Kacau deh,” sambungnya.

Saking semangatnya untuk melakukan perjalanan, salah satu peserta terpaksa harus mengalami jebol rem tangan. Para rombongan yang tiba hari Sabtu lalu telah memulai etape pertama yang dimulai dari Bandara Hasanuddin menuju kota Makassar.

Kedatangan mereka juga disambut baik oleh komunitas BMW Car Club Indonesia (BMWCCI) chapter Makassar. “Rencana akan join touring dengan BMWCCI Makassar,” ungkapnya Pae Bowo.

Di hari pertama, para rombongan diajak untuk menikmati suguhan kuliner yang ada di Makassar. Yusuf Gunco selaku tokoh komunitas Mercedes Benz Makassar menjamu para rombongan menjelang keberangkatan.

Mendekati hari keberangkatan pada Selasa (8/8), rombongan kembali dihadapkan dengan sedikit masalah. “Kami masih memutuskan apakah akan menuju ke Poso atau tidak. Menurut informasi setempat, kondisi sedang tidak kondusif. Andrian Nasution, Map Commander kita juga sedang mengatur rute perjalanan,” terangnya.

Perjalanan melintasi tanah Celebes selama lebih kurang 14 hari ini menembus rute Makassar-Manado-Makassar sejauh 3.900 km. “Puncaknya kami akan melakukan upacara 17 Agustus yang jujur saja saya juga belum tau akan dilakukan dimana. Tapi besar harapan saya untuk melakukan upacara di Tugu Equator Palu atau di Gong Perdamaian Dunia di kota Palu,” kata pria berkacamata ini sembari optimis.