Sepenggal Kisah di Balik Kesuksesan MINI

Jakarta Custom Culture 2018 Jakarta Custom Culture

Siapa yang menduga, di suatu hari pada bulan Agustus 1959, di sebuah pabrik Longbridge dan Cowley, Inggris, Sir Alec Issigonis berhasil menelurkan warisan mobil yang cukup apik dan dikenal dunia dengan nama MINI. Hingga hari ini, mobil itu masih mendapat tempat yang spesial di hati para pecintanya, mulai dari yang klasik hingga yang baru saja dirilis.

Berawal dari British Motor Corporation (BMC), perusahaan hasil merger antara Austin dan Morris yang berencana membuat mobil kecil ringkas, hemat BBM dan berkapasitas besar. Leonard Lord selanjutnya menunjuk Alec Issigonis untuk merancang mobil tersebut.

Tugas itu diemban sejak Maret 1957. Dua tahun kemudian mobil tersebut siap mengaspal. Agustus 1959 ditetapkan sebagai hari kelahiran mobil tersebut, yang memberikan efek besar kepada dunia dengan nama Austin Mini Seven dan Morris Mini-Minor. Sampai akhirnya Mini menjadi merek sendiri pada tahun 1969, dan Mini akhirnya diproduksi lagi oleh Austin pada tahun 1980-an.

Pada era nya, MINI mengubah pandangan masyarakat dengan menjadi mobil berdesain kompak yang lahir dengan mesin melintang dan penggerak roda depan. Hal tersebut belum pernah digunakan oleh seluruh pabrikan mobil saat itu. Bahkan, mobil yang dianggap sebelah mata tersebut, sanggup menjadi langganan juara di ajang Rally Monte Carlo pada tahun 1964, 1965 dan 1967, dan selalu masuk tiga teratas dari tahun 1964 sampai 1968. Wow, fantastis ya!

Setelah 42 tahun meraih kesuksesan, MINI memutuskan untuk menghentikan produksinya pada tahun 2001 dan bertransformasi menjadi New MINI berkat kolaborasinya dengan pabrikan asal Jerman, BMW. Pada tahun yang sama, majalah Autocar menganugerahkan MINI sebagai mobil paling berpengaruh di abad 20, mengalahkan Ford T dan VW Beetle.

Atas dasar itulah MINI menjadi salah satu mobil dengan magnet yang cukup kuat, denyutnya terasa sampai di Indonesia. Pada tahun 1993 misalnya, berdiri klub Jakarta Morris Club (JMC) dan akhir pekan lalu klub ini merayakan 23 tahun eksistensinya secara semarak, yang dihadiri lebih dari 150 Morris dan MINI.

Tahun depan, akan digelar Mini Day, yang mengumpulkan dan mempersatukan para penggemar Morrris dan Mini di seluruh Indonesia, juga media untuk berkomunikasi dengan klub-klub Morris dan Mini di luar Indonesia, seperti Asia (Malaysia, Thailand, Taiwan, Jepang dan lain-lain) maupun negara dari benua lain. Viva Morris dan MINI, bravo Sir Alec Issigonis!